Sunday, November 22, 2009

Kisah Hikmah: Ketakwaan Para Sahabat

Penjelasan Mengenai Ketakwaan Para Sahabat

1. Kepulangan Rasulullah dari Mengantar Jenazah dan Undangan seorang Wanita

Pada suatu hari, ketika Rasulullah sedang berjalan pulang dari upacara pemakaman, seorang wanita telah mengundang beliau untuk makan-makan di rumahnya.

Beliau bersama-sama dengan para sahabat berangkat menuju wanita pengundang tadi. Ketika makanan dihidangkan, nabi kelihatan kesulitan menelan makanan yang dihidangkan. Beliau bersabda, "Sepertinya hewan ini telah disembelih tanpa izin pemiliknya."

Wanita itu berkata, "Ya Rasulullah, tadi saya telah menyuruh seorang lelaki membeli seekor kambing di pasar. Tetapi kambing-kambing itu telah habis terjual. Kebetulan beberapa hari yang lalu tetangga saya telah membeli seekor kambing.

Kemudian saya menyuruh lelaki itu ke rumah tetangga saya untuk membeli kambing tersebut. Sayangnya pemilik kambing itu sedang tidak ada di rumah, jadi yang menjual kamibing itu istrinya."

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW bersabda, "berikanlah makanan ini kepada tawanan." (Abu Daud)

2. Nabi SAW tidak dapat tidur karena khawatir mengenai sebutir kurma sedekah

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW tidak dapat memejamkan matanya sepanjang malam. Beliau selalu mengubah-ubah posisi tidurnya, namun tetap tidak dapat memjamkan mata walau sekejap pun. Sehingga istri beliau bertanya,

"Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tidak dapat tidur?"

Beliau menjawab, "Tadi ada sebuah yang diletakkan di suatu tempat. Karena takut terbuang begitu , maka saya telah mengambil dan memakannya. Sekarang setelah saya berfikir, saya merasa menyesal dan khawatir, mungkin kurma yang dikirimkan kepadaku itu adalah kurma untuk disedekahkan kepada fakir miskin."

3. Abu Bakar Shiddiq RA Menumpahkan makanan dari tukang ramal

Abu Bakar Shiddiq RA mempunyai seorang hamba sahaya yang senantiasa memberikan makanan kepadanya. Suatu ketika hamba sahayanya itu membawa makanan dan Abu Bakar Shiddiq memakan satu suap dari makanan itu. Hamba sahayanya itu berkata, "Biasanya Tuan selalu bertanya tentang sumber makanan yang saya bawa, tetapi hari ini Tuan tidak berbuat demikian?"

Abu Bakar menjawab, "Saya sangat lapar, sehingga saya lupa bertanya. Sekarang, terangkan kepadaku dari mana engkau mendapat makanan ini?"

Hamba Sahayanya menjawab, "Pada zaman jahiliyah, sebelum saya memeluk islam, saya pernah menjadi seorang peramal. Suatu ketika saya bertemu dengan satu kaum di sebuah kabilah, kemudian saya membacakan mantra kepada mereka.

Mereka berjanji kepada saya akan memberikan sesuatu sebagai imbalan jasa saya kepada mereka. Hari ini saya telah lewat di perkampungan mereka. Mereka berkata, "Di sini sedang diadakan upacara pernikahan, kemudian mereka memberi makanan ini kepada saya."

Mendengar cerita hamba sahayanya itu, Abu Bakar berkata, "Hampir saja kamu membinasakanku!" Setelah itu dia berusaha memuntahkan makanan itu dengan memasukkan jari tangan ke dalam kerongkongannya. Tetapi disebabkan perasaan sangat lapar yang belaiu derita sebelumnya, makanan itu pun sangat sulit dikeluarkan.

Ada orang yang memberitahu beliau bahwa makanan itu dapat dimuntahkan dengan cara meminum air sebanyak-banyaknya. Maka beliau meminta air di gelas yang besar, kemudian beliau pun minum sebanyak-banyaknya. Makanan itu pun akhirnya dapat dimuntahkan.

Seseorang yang memperhatikan beliau berkata, "Semoga bAllah mencurahkan rahmat-Nya kepada engkau. Engkau telah bersusah payah disebabkan oleh sesuap makanan."

Abu Bakar menjawab, "Apabila untuk memuntahkan makanan itu harus saya tebus dengan jiwa, maka saya pasti melakukannya. Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram, maka api (neraka) lebih baik baginya. Saya takut ada bagian dari badan saya yang disuburkan oleh makanan haram." (Kanzul Ummal

Sifat Zuhud dan Sederhana

1. Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yang Mencintai Rasulullah SAW

Seorang sahabat telah datang menjumpai Rasulullah SAW, lalu berkata,"Ya Rasulullah, saya mencintai Engkau." Nabi SAW bersabda,"Pikirkan dahulu apa yang engkau katakan,"

Tetapi orang itu berkata lagi,"Saya mencintai engkau Ya Rasulullah."Nabi tetap bersabda seperti tadi. Setelah tiga kali orang itu bertanya dengan pertanyaan yang sama, akhinya Nabi SAW bersabda,"Baiklah, apabila engkau tulus dalam perkataanmu itu, maka bersiaplah menghadapi kefakiran yang akan menimpamu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat kepada orang-orang yang mencintai aku sebagaimana air terjun yang mengalir."

2. Pertanyaan Rasulullah SAW kepada para sahabat tentang dua jenis manusia

Suatu ketika Rasulullah sedang duduk bersama beberapa orang sahabatnya. Kemudian datanglah seseorang lewat di depan mereka. Orang ini berpenampilan perlente, rapi, berpakaianj ala bangsawan. Nabi bertanya kepada para sahabat,"Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini (orang yang lewat tadi)."

Para sahabat menjawab,"Ya Rasulullah, dia termasuk orang kaya dan mulia. Demi Allah, jika dia melamar seorang wanita, lamarannya pasti diterima. Jika dia melindungi seseorang, pasti lindungannya disetujui. Jika dia berbicara, pasti orang pada mendengarkan." Mendengar jawaban para sahabat, Nabi hanya terdiam.

Tidak lama kemudian , datang lagi seseorang lewat di depan mereka. Orang ini berpenampilan kumuh, lusuh, dekil dan berpenampilan seperti gembel. Rasulullah bertanya lagi mengenai orang itu," Sekarang pendapat kalian bagaimana mengenai orang ini." Mereka menjawab,"Ya rasulullah, dia seorang yang miskin. Jika dia melamar seorang wanita, pasti lamarannya akan ditolak. Jika dia mengusulkan sesuatu, pasti tidak diterima. Jika dia berbicara, pasti tidak akan orang yang mau mendengarkannya."

Rasulullah bersabda,"Apabila seluruh dunia dipenuhi oleh orang seperti yang pertama tadi, maka orang yang kedua tadi lebih baik dari mereka semua."

Hikmah dari kisah di atas adalah: Orang yang hanya mengandalkan kemuliaan di dunia saja, tanpa amalan akherat niscaya tidak akan mendapat tempat di sisi Allah. Sebaliknya orang miskin yang tidak mendapat tempat di sisi siapapun di dunia, yang kata-katanya tidak didengar oleh siapapun, tetapi ternyata dia lebih mulia dalam pandangan Allah. Kesimpulannya, Allah menilai hambanya dari ketaatan dan ketaqwaannya, bukan pada penampilan dan hartanya.

3. Penolakan Rasulullah SAW Terhadap Tawaran Gunung Emas

Rasulullah SAW bersabda,"Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk mengubah bukit-bukit di Makkah menjadi emas. Tetapi aku menadahkan tangan kepada-Nya sambil berkata,"Ya Allah, saya lebih suka sehari kenyang dan lapar pada hari berikutnya agar saya dapat mengingat-Mu apabila sedang lapar, dan memuji-Mu serta mensyukuri nikmat-Mu apabila kenyang."

4. Rasulullah SAW memperingatkan Umar RA dengan kehidupan beliau yang zuhud

Suatu hari Umar Bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Kebetulan waktu itu Rasul sedang tiduran di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun kurma. Dilihatnya kamar Rasulullah hanya berisi tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu. Di dinding bilik hanya tergantung sebuah guci kecil terbuat dari kulit kambing tempat mengambil wudhu untuk sholat malam. Selain dari itu tidak ada apa-apa.

Umar menangis melihat keadaan kamar Rasulullah. Rasulullah bertanya,"Mengapa engkau menangis wahai Umar?" Umar menjawab,"Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasulullah. Saya sedih melihat tanda bekas tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia, dan saya prihatin melihat kamar engkau." Semoga Allah mengaruniakan kepada kepada tuan bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang ditengahnya mengalir sungai. Sedangkan engkau adalah pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin."

Ketika Umar berkata demikian, Rasulullah bangun dari tikarnya lalu berkata,"Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik dari pada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orag kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya."

Mendengar sabda Nabi tersebut, Umar merasa menyesal dan meminta maaf kepada Rasulullah. Umar berkata,"Ya Rasulullah, memohon ampunlah kepada Allah untuk saya, saya telah bersalah dalam hal ini."

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Blog Matahati Imaduddien Abu Hanifah
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

1 comment:

  1. Ini sumbernya mengambil dari kitab Fadha'il Amal ya?

    ReplyDelete